Kongres Internasional I Literasi Dayak, Kongres Literasi Berbasis Etnis Pertama di Dunia
Masyarakat suku bangsa Dayak telah menorehkan sejarah baru dan pertama di dunia. Mereka menyelenggarakan Kongres Internasional I Literasi Dayak, sebuah kongres literasi berbasis etnis pertama di dunia. Kegiatan ini berlangsung pada 16 Mei 2026 di Sekadau, Kalimantan Barat.
Kongres Internasional I Literasi Dayak menghadirkan berbagai tokoh dari kalangan akademisi, politisi, sastrawan, penulis, budayawan, hingga penggerak literasi Dayak dari Indonesia dan Malaysia. Kegiatan dibuka oleh Wakil Bupati Sekadau Subandrio, S.H., M.H., kemudian dilanjutkan sambutan Ketua Panitia Penyelenggara, Masri Sareb Putra, M.A.
Sebagai keynote speaker, Dr. Yansen Tipa Padan, M.Si tampil membawakan materi tentang upaya memajukan masyarakat Dayak melalui gerakan literasi. Prof. Telhalia, M.Th., D.Th membahas regenerasi pengetahuan Dayak di era digital, sedangkan DR (H.C) Cornelis, S.H., M.H. memberikan apresiasi terhadap perkembangan literasi Dayak. Ketiga tokoh ini berperan sebagai penggerak pemikiran strategis yang menempatkan literasi sebagai sarana pembangunan masyarakat Dayak di masa depan.
Kongres ini juga memperlihatkan keterlibatan tokoh internasional dari Malaysia. Jaya Ramba sebagai sastrawan Malaysia membawakan materi mengenai literasi Dayak di Malaysia yang dipandang sebagai role model bagi pengembangan literasi Dayak di Indonesia. Dr. Patrisia Ganing membahas hubungan budaya Dayak dengan industri buku di Malaysia, sedangkan Paul Nanggang hadir sebagai penulis dan pembaca puisi asal Malaysia. Kehadiran mereka memperkuat jejaring sastra dan literasi Dayak lintas negara.
Dari kalangan akademisi dan lembaga literasi, Prof. Dr. Agus Pakpahan menjelaskan posisi literasi Dayak sebagai inspirasi bagi literasi etnik-etnik lain di Indonesia. Ir. Petrus Gunarso, Ph.D memperkenalkan konsep Rumah Buku Dayak sebagai rumah panjang Dayak masa kini. Dr. (c) Masri Sareb Putra, M.A. memaparkan perkembangan penerbitan buku Dayak dari masa ke masa sebagai bagian dari dokumentasi sejarah intelektual Dayak. Sementara itu, Prof. Dr. Maidiantius Tanyid, M.Th bertugas sebagai penanggap akademik terhadap materi-materi kongres.
Pada sesi pengembangan literasi berbasis gerakan sosial dan pendidikan, Munaldus, M.A. sebagai penulis dan pendiri CU Keling Kumang membahas penerbitan buku Dayak dan penguatan literasi masyarakat. Alexander Mering sebagai penulis dan webmaster mengangkat tema literasi Dayak dalam konfigurasi gerakan literasi finansial. Dalam topik Literasi Dayak Going To Campus, selain Dr. Stefanus Masiun, S.H., M.H., turut memberikan materi Dr. Pitalis Mawardi yang mendorong penguatan budaya literasi Dayak di lingkungan perguruan tinggi.
Pada sesi kebudayaan dan sastra, Daniel Banai bersama tim membawakan materi sastra lisan, nyanyian Dayak, dan cerita rakyat Dayak sebagai bentuk pelestarian tradisi lisan masyarakat Dayak. Sesi ini memperlihatkan bahwa literasi Dayak tidak hanya berkembang dalam bentuk buku dan akademik, tetapi juga hidup dalam tradisi tutur dan seni budaya masyarakat.
Para moderator dalam kongres ini berasal dari kalangan akademisi dan tokoh pendidikan yang memiliki pengalaman dalam bidang literasi, teologi, budaya, dan pendidikan tinggi. Dr. Wilson, M.Th., bertugas memoderatori sesi utama mengenai gerakan literasi Dayak dan regenerasi pengetahuan Dayak di era digital. Dr. Urbanus dipercaya memandu sesi panel internasional bersama pembicara dari Malaysia. Dr. Louis Kanyan bertugas sebagai moderator pada sesi siang yang membahas penerbitan buku Dayak dan literasi finansial. Pada sesi akhir kongres, moderator dipercayakan kepada Dr. Kalip, yang memandu diskusi kebudayaan, sastra lisan, dan penutupan kegiatan secara akademis dan dialogis.
Penyelenggaraan Kongres Internasional I Literasi Dayak menjadi tonggak penting dalam sejarah intelektual masyarakat Dayak. Kongres ini memperlihatkan bahwa masyarakat Dayak memiliki kapasitas besar dalam membangun gerakan literasi berbasis budaya dan identitas etnis secara modern, terbuka, dan mendunia. Dari Sekadau, Kalimantan Barat, lahir sebuah pesan kuat bahwa literasi dapat menjadi jembatan antara tradisi, pendidikan, dan masa depan masyarakat adat di tengah perkembangan zaman global.
