Rumah Panjai Filosofi Manusia Dayak
Buku Rumah Panjai Filosofi Manusia Dayak karya Wilson merupakan salah satu karya penting yang mengulas kebudayaan Dayak, khususnya filosofi kehidupan masyarakat Dayak Iban yang berpusat pada rumah panjang atau rumah panjai. Buku ini diterbitkan oleh Lembaga Literasi Dayak pada tahun 2019 dengan tebal xvi + 100 halaman.
Sejak awal, penulis menunjukkan bahwa masyarakat Dayak memiliki kearifan lokal yang kuat dalam mengatur kehidupan bersama. Salah satu simbol terpentingnya adalah Rumah Panjai, rumah panjang yang menjadi pusat kehidupan masyarakat Dayak Iban (Ibanic Group). Bagi mereka, rumah panjai bukan sekadar tempat tinggal, melainkan pusat kehidupan manusia (alai mensia idup) yang mengatur berbagai aspek kehidupan sosial.
Dalam buku ini dijelaskan bahwa rumah panjai memiliki sedikitnya enam fungsi utama. Pertama, sebagai tempat hidup bersama (alai idup). Kedua, sebagai pusat peradaban, tempat adat dan penyelesaian perkara diatur. Ketiga, sebagai pusat kesatuan genealogis (tusui purih). Keempat, sebagai pusat kehidupan sosial yang menumbuhkan kebersamaan, komunikasi, dan kerja sama. Kelima, sebagai ruang pergulatan politik atau pengambilan keputusan bersama (pemenauk idup). Keenam, sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat (kerja-kaya, remu-reta).
Namun demikian, penulis juga menyoroti tantangan modernisasi yang menyebabkan terjadinya pergeseran fungsi rumah panjai. Generasi tua masih berupaya mempertahankan tradisi dan lembaga adat yang kuat, sementara sebagian generasi muda mulai meragukan nilai dan relevansi tradisi tersebut. Kondisi ini menunjukkan pentingnya upaya pelestarian nilai-nilai budaya agar tidak hilang di tengah perubahan zaman.
Sebagai hasil penelitian lapangan, buku ini tidak hanya memaparkan fungsi rumah panjai secara antropologis, tetapi juga menggali filosofi di baliknya. Penulis menggunakan pendekatan hermeneutika untuk menjembatani pemahaman antara tradisi masa lampau dengan realitas kehidupan masa kini.
Menariknya, buku ini juga membahas asal-usul manusia Dayak melalui dua pendekatan: mitos dan penelitian ilmiah. Dalam tradisi Dayak Iban, misalnya, kisah asal-usul manusia terekam dalam nyanyian sakral Buah Kana yang menceritakan bahwa manusia berasal dari pertemuan Petara Langit dan Petara Bumi, yang dilambangkan melalui peristiwa alam seperti embun yang turun dan jaring yang membentang. Sementara itu, dalam tradisi Dayak Ngaju, kisah asal-usul manusia disampaikan melalui cerita Tetek Tatum, yang menyebut manusia sebagai keturunan Raja Bunu yang diutus oleh Ranying Hatalla Langit.
Secara keseluruhan, buku ini menghadirkan pemahaman yang kaya mengenai identitas, filosofi, dan sistem kehidupan masyarakat Dayak. Dengan bahasa yang cukup akademis namun tetap mudah diikuti, buku ini layak menjadi rujukan penting bagi siapa pun yang ingin memahami kebudayaan Dayak lebih dalam. Tidak berlebihan jika karya ini disebut sebagai salah satu pustaka penting yang menyimpan “gizi sejarah” sekaligus inspirasi untuk menjaga warisan budaya Nusantara.
