Senja dan Cinta, Novel dengan dialek Ba Ahe


Di tengah gempuran globalisasi yang mengancam kelangsungan banyak bahasa daerah, muncul sebuah karya berani yang patut diapresiasi: Senja dan Cinta yang Tenggelam di Desa Mentonyek. Novel roman berbahasa Dayak Kanayatn (khusus dialek Ba Ahe atau Bajanya) ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ia adalah pernyataan tegas tentang pelestarian identitas budaya melalui sastra.

Paran Sakiu, penulis yang juga putra asli Desa Mentonyek, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, melakukan terobosan luar biasa. Ini adalah novel pertamanya dan langkah berani menulis sepenuhnya dalam bahasa ibu Dayak Kanayatn. Target pembacanya memang ceruk kecil: penutur asli Ba Ahe. Namun justru di situlah kekuatannya. Novel ini bukan untuk “mendunia”, melainkan untuk “menjaga rumah” agar bahasa dan identitas Dayak tidak tenggelam seperti senja di desa kecil.

Sinopsis Singkat (tanpa spoiler berat)

Cerita berlatar dua desa sederhana di Kecamatan Mempawah Hulu, Kabupaten Landak: Mentonyek dan Pampakng. Tokoh utama adalah Udo, pemuda Dayak tangguh yang bertekad memerangi kemiskinan. Ia merantau jauh, berprinsip pantang pulang sebelum menjadi “pemenang” atas nasibnya. Di sisi lain ada Yopita, gadis cantik berambut sebahu, baik hati, tapi mudah baper dan tegas dalam kesetiaan.

Cinta mereka di masa remaja kandas karena salah paham dan asumsi. Hidup memisahkan mereka: pernikahan dengan orang lain, kehilangan pasangan, hingga pertemuan tak terduga di sebuah rumah sakit di Jepang puluhan tahun kemudian. Di sinilah kisah asmara yang pernah tenggelam kembali muncul ke permukaan. Pergolakan batin, dilema, dan nilai kesetiaan menjadi benang merah yang menyentuh.

Apa yang Membuat Novel Ini Istimewa?

Bahasa sebagai Jiwa Cerita

Penggunaan bahasa Dayak Kanayatn Ba Ahe sepenuhnya membuat pembaca asli merasakan kedekatan emosional yang sulit dicapai oleh terjemahan. Dialog, pepatah lokal, dan nuansa budaya terasa hidup seperti mendengar cerita dari orang tua di beruga atau saat makan bersama keluarga besar.

Pesan Moral yang Dalam dan Lokal

Novel ini sarat dengan nilai-nilai Dayak: perjuangan melawan kemiskinan tanpa melupakan akar (orang tua, saudara, kampung halaman), pentingnya tradisi makan bersama sebagai ruang pendidikan anak, kesetiaan dalam cinta meski beda kelas sosial, serta keberanian mengambil keputusan di tengah dilema hidup.

Karakter yang Relatable

 

Udo adalah sosok inspiratif: kreatif, pantang menyerah, pemberani merantau, tapi tetap sayang keluarga. Yopita mewakili perempuan Dayak yang teguh pada hati meski harus berkompromi dengan keadaan. Chemistry mereka meski terpisah puluhan tahun tetap terasa hangat dan autentik.

Keberanian Penulis

Di era ketika novel berbahasa Indonesia lebih mudah menjangkau pasar luas, Paran Sakiu memilih jalur sulit demi melestarikan bahasa ibu. Ini adalah bentuk perjuangan budaya yang nyata, dan layak mendapat apresiasi tinggi dari komunitas Dayak maupun pecinta sastra daerah.

Senja dan Cinta yang Tenggelam di Desa Mentonyek adalah novel sederhana namun memikat, terutama bagi penutur Dayak Kanayatn Ba Ahe. Alurnya tak rumit, tapi emosinya dalam mengajak kita merenung tentang cinta yang abadi, perjuangan melawan kemiskinan, dan betapa berharganya bahasa sebagai identitas. Bagi yang memahami bahasa ini, bacaan ini seperti pulang kampung: hangat, nostalgia, dan penuh makna.

Jika Anda penutur Ba Ahe atau peduli pelestarian bahasa daerah, novel ini wajib dibaca. Paran Sakiu bukan hanya menulis cerita; ia menulis perlawanan lembut terhadap kemusnahan identitas. Selamat membaca semoga senja di Mentonyek tak pernah benar-benar tenggelam.

 

Judul Buku: Senja dan Cinta yang Tenggelam di Desa Mentonyek

Karya: Pdt. Paran Sakiu, M.Pd.

Editor: Masri Sareb Putra, M.A

Lay Outer: Matius Mardani, M.Pd.

Cetakan Pertama: Maret 2024

Penerbit: Lembaga Literasi Dayak

ISBN: 978-623-5890-24-1

xi + 227 halaman | Ukuran 15 x 23 cm

 

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url