Hari Terakhir



Pendeta pengarang? Mengapa tidak. Dunia sastra Indonesia pernah mengenal sosok Fridolin Ukur, pendeta berpeci hitam kelahiran Tamiang Layang, Kalimantan Tengah (5 April 1930), yang dikenal luas melalui program “Mimbar Protestan” di TVRI. Khotbah-khotbahnya bernas, filosofis, dan puitis. Puisi-puisinya pun terhimpun dalam buku Malam Sunyi (1961) dan Wajah Cinta (2001).

Semangat itulah yang seakan berlanjut dalam diri Pdt. Paran Sakiu. Melalui Hari Terakhir, ia membuktikan bahwa pelayanan dan kesusastraan dapat berjalan beriringan. Cerpen-cerpen dalam buku ini tidak hanya menyajikan kisah, tetapi juga menghadirkan jiwa. 

Ada suspens yang terbangun rapi, akhir cerita yang tak mudah ditebak, serta kejutan-kejutan kecil yang memperlihatkan kematangan teknik bertutur. Storytelling yang dihadirkan terasa hidup menghibur sekaligus memberi makna.

Salah satu cerpen yang menjadi judul buku ini berkisah tentang Bagelo yang harus meninggalkan Pulau Borneo untuk menumpang kapal Bukit Raya menuju Jakarta. Di hari terakhir sebelum keberangkatannya, ia bertemu pujaan hatinya, Sumarni, di dekat pos satpam. 

Disangka bertengkar karena Sumarni menyeka air mata, pertemuan itu justru menjadi momen haru perpisahan. “Jika kita berjodoh, jarak dan waktu tidak akan menjadi penghalang,” ucap Bagelo sembari menggenggam tangan kekasihnya. Tanpa mereka sadari, itulah pertemuan terakhir.

Melalui kisah sederhana namun menyentuh, Paran Sakiu menghadirkan refleksi tentang cinta, perpisahan, dan takdir. Hari Terakhir adalah kumpulan cerpen yang layak dibaca dan merenungi makna kehidupan di baliknya.

Judul: Hari Terakhir (Kumpulan Cerpen)
Penulis: Pdt. Paran Sakiu, M.Pd.
Cetakan I, Tangerang: Lembaga Literasi Dayak, 2020
x + 120 hlm, 14 x 21 cm
ISBN: 978-623-7069-72-0
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url