Rujak Tradisi Pemersatu Dayak Uud Danum
Di daerah lain, membuat rujak mungkin adalah hal yang biasa saja. Bahkan di kota besar kita bisa temui banyak tempat di pinggir jalan yang menjual rujak.
Tapi bagi masyarakat Dayak Uud Danum, membuat rujak itu seperti sebuah tradisi terutama di saat berkumpul bersama keluarga atau kerabat. Mereka menjadikan rujak seperti menu istimewa yang wajib ada pada saat berkumpul bersama kerabat dan keluarga. Membuat rujak saat berkumpul bersama sudah seperti tradisi. Rujak dapat mempererat hubungan dan silaturahmi suku Dayak Uud Danum.
Rujak yang dibuat pun bervariasi. Biasanya tergantung lokasi dan disesuaikan dengan bahan yang tersedia. Misalnya saja apabila di kampung halaman, orang Uud Danum biasanya membuat rujak dari buah pisang hutan, buah ara, singkong, mangga muda, jambu, dan buah nangka mentah yang masih kecil.
Bahan-bahan ini dipetik langsung dari hutan atau kebun belakang rumah. Hal ini mencerminkan kearifan lokal suku Dayak Uud Danum yang hidup selaras dengan alam di pedalaman hutan Kalimantan Barat.
Biasanya, jika sudah berkumpul, pertama-tama akan makan hidangan makanan pokok seperti nasi dan lauk. Beberapa jam selanjutnya, biasanya mereka akan bersama-sama mencari bahan-bahan untuk membuat rujak. Mereka secara bergotong-royong dalam membuat rujak. Ada yang mengupas buah, memetik cabe, dan ada yang mempersiapkan alat untuk menumbuk bumbu rujak dan cabe. Proses ini bukan sekadar membuat makanan, tetapi ajang “hokavat atau hodohop” istilah lokal untuk tolong-menolong yang memperkuat ikatan sosial. Tradisi ini sering dilakukan saat berkumpul bersama keluarga besar atau sahabat.
Pada zaman dahulu, orang yang berladang juga wajib membuat rujak untuk tanaman padi yang masih mengandung bulir padi. Tradisi seperti ini masih dilakukan meskipun tidak semua yang menerapkan.
Rujak bukan sekedar makanan, melainkan jembatan masa lalu dan masa depan. Dengan menjaga adat ini, suku Dayak Uud Danum memastikan warisan leluhur mengalir seperti Danum yang tak pernah kering.
