Cerita Rakyat Kalimantan Tengah Antologi Penulis Lokal
Buku Cerita Rakyat Kalimantan Tengah Antologi Penulis Lokal merupakan sebuah upaya penting dalam melestarikan khazanah folklor Dayak di Kalimantan Tengah. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Lembaga Literasi Dayak, cetakan pertama tahun 2017 di Tangerang, dengan ketebalan xiv + 358 halaman dan ukuran 14 x 21 cm.
Keistimewaan buku ini terletak pada keterlibatan 22 penulis lokal yang seluruhnya berprofesi sebagai guru dan dosen di Kalimantan Tengah, sehingga karya ini bernilai sastra, sarat dengan muatan edukatif.
Secara etimologis, istilah folklor berasal dari bahasa Inggris folklore yang pertama kali diperkenalkan oleh sejarawan Inggris, William Thoms, melalui surat kabar London Journal pada tahun 1846. Folklor merujuk pada cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun dalam tradisi lisan dan pada umumnya tidak terdokumentasikan secara tertulis.
Padahal, cerita rakyat menyimpan pesan-pesan moral yang sangat tinggi, mencakup kearifan lokal, nilai pendidikan, pengajaran, serta hikmat kebijaksanaan, di samping fungsi hiburan.
Pada masa lalu, folklor menjadi media utama orang tua dan leluhur dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak cucu mereka. Menjelang tidur, cerita-cerita rakyat disampaikan sebagai pengantar lelap, sekaligus sebagai sarana pendidikan karakter. Melalui dongeng, anak-anak belajar tentang keutamaan, keberanian, kejujuran, kebersamaan, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Namun, seiring perkembangan zaman dan maraknya media hiburan modern, tradisi bertutur cerita rakyat kian memudar. Kebersamaan perlahan hilang, para pencerita folklor semakin langka. Tanpa upaya pendokumentasian, cerita-cerita rakyat terancam hilang ditelan waktu.
Dalam konteks inilah, kehadiran buku Cerita Rakyat Kalimantan Tengah menjadi sangat berarti. Melalui proses seleksi dan sayembara yang ketat, para guru berhasil menghimpun cerita-cerita rakyat yang kaya akan nilai pendidikan dan kearifan lokal. Buku ini merupakan bukti tumbuhnya kesadaran kolektif masyarakat Kalimantan Tengah untuk menggali, menulis, dan mengabadikan warisan budaya leluhur dalam bentuk buku.
Antologi ini layak mengisi ruang-ruang baca publik, seperti perpustakaan daerah, perpustakaan sekolah, ruang baca keluarga, serta sangat relevan sebagai buku pengayaan dan bahan ajar muatan lokal. Lebih dari sekadar kumpulan cerita, buku ini adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini, sekaligus sarana pewarisan nilai budaya kepada generasi muda.
