Diskusi Persiapan Kongres Internasional Literasi Dayak: Membangun Solidaritas dan Kebangkitan Peradaban



Pada Sabtu, 7 Maret 2026, tiga orang terlibat dalam diskusi mendalam mengenai persiapan Kongres Internasional Literasi Dayak, yaitu Yansen TP, Masri Sareb Putra, dan Matius Mardani. Diskusi ini membicarakan berbagai aspek mengenai kegiatan Kongres Internasional Literasi Dayak yang disingkat KILD.

Beberapa hal yang dibahas mulai dari konsep kegiatan hingga pembiayaan yang diharapkan dapat diusahakan melalui swadaya dan solidaritas masyarakat Dayak. Dukungan tersebut diharapkan datang dari berbagai elemen masyarakat Dayak untuk membiayai kegiatan ini. Solidaritas menjadi penting karena Kongres Internasional Literasi Dayak dimaksudkan sebagai wadah untuk mempersatukan berbagai elemen masyarakat Dayak, para tokoh Dayak, serta semua pihak yang memiliki keinginan agar masyarakat Dayak semakin maju.

Dalam perbincangan tersebut juga muncul kesadaran bahwa literasi menjadi salah satu jalan untuk membangkitkan kembali peradaban Dayak yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Karena itu partisipasi masyarakat tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan dana, tetapi juga keterlibatan dari setiap elemen masyarakat dengan semangat kemandirian.

Partisipasi tersebut diharapkan datang dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh politik, tokoh adat, para intelektual, peneliti, penulis, sastrawan, budayawan, hingga generasi muda Dayak. Semua unsur ini diharapkan menjadi bagian dari kebangkitan peradaban masyarakat Dayak sebagai sebuah suku bangsa.

Kegiatan ini melibatkan komunitas Dayak yang tidak yang berada di luar negeri seperti di Malaysia dan negara lain. Konsep kemandirian dan solidaritas ini menjadi salah satu hal penting karena masyarakat Dayak dikenal memiliki persatuan yang kuat ketika berbicara tentang kemajuan bersama.

Oleh karena itu diskusi ini menjadi penting. Dalam semangat tersebut diharapkan tidak ada sekat di antara berbagai elemen masyarakat. Tidak ada upaya menonjolkan siapa yang harus tampil atau siapa yang paling mendapat sorotan. Semua elemen diajak berbicara tentang literasi, tentang narasi, dan tentang berbagai karya yang dapat memberikan sumbangsih bagi kemajuan peradaban Dayak.

Dengan tetap menghormati para tokoh masyarakat Dayak, melalui momentum ini diharapkan semua pihak dapat membuka diri. Setiap orang diharapkan menanggalkan ego ketokohan dan lebih memikirkan apa yang perlu dinarasikan dalam kegiatan literasi ini.

Kegiatan ini tidak dimaksudkan sebagai panggung politik untuk kepentingan tertentu, baik perorangan maupun organisasi. Kegiatan ini diarahkan sepenuhnya bagi kepentingan masyarakat Dayak. Semangat swadaya, solidaritas, dan kemandirian menjadi poin penting untuk mewujudkan sebuah kegiatan yang diharapkan menjadi momentum penting bagi peradaban Dayak.

Gerakan literasi ini juga diharapkan dapat menjadi ruang pemersatu bagi berbagai inisiatif literasi yang telah berkembang di tengah masyarakat Dayak. Berbagai kegiatan literasi selama ini hadir melalui penulisan buku, penerbitan karya ilmiah, serta berbagai lembaga dan komunitas yang mengembangkan narasi tentang Dayak.

Selain itu muncul pula berbagai media seperti blog, website, aplikasi, hingga media sosial yang dikelola oleh berbagai kalangan, baik secara pribadi maupun organisasi. Semua inisiatif tersebut diharapkan dapat dipertemukan dalam satu ruang dialog bersama.

Melalui kongres ini masyarakat Dayak diajak untuk duduk bersama dan membicarakan Dayak dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan. Bagaimana Dayak dapat terus eksis di tengah berbagai tantangan dunia, baik pada tingkat nasional maupun global.

Harapan yang muncul dari diskusi ini adalah agar masyarakat Dayak dapat bersatu untuk mewujudkan sebuah kegiatan yang memiliki makna bersejarah bagi generasi berikutnya. Sebuah kesadaran bahwa Dayak tidak hanya ditulis atau diceritakan oleh orang lain.

Sudah waktunya Dayak menuturkan kisahnya sendiri kepada dunia.

Narasi tentang Dayak diharapkan lahir dari masyarakat Dayak sendiri dan disampaikan kepada masyarakat luas pada tingkat lokal, nasional, maupun internasional.

Kongres Internasional Literasi Dayak direncanakan berlangsung di Sekadau, Kalimantan Barat, pada tanggal 15-16 Mei 2026. Kegiatan ini mendapat dukungan dari Institut Teknologi Keling Kumang, sebuah institusi pendidikan yang didirikan dengan peran aktif masyarakat Dayak.

Kehadiran institusi pendidikan ini menjadi salah satu gambaran bagaimana masyarakat Dayak berusaha membangun kemandiriannya di tengah berbagai tantangan ekonomi dan pembangunan sumber daya manusia.

Dalam kongres ini juga direncanakan adanya kegiatan Book Fair yang memberikan kesempatan bagi karya-karya penulis Dayak untuk diperkenalkan kepada publik. Karya-karya tersebut akan dipamerkan sehingga menjadi kesempatan bagi tulisan para penulis Dayak untuk dikenal lebih luas.

Pertemuan yang berlangsung singkat namun cukup intens ini diharapkan dapat memantik perhatian para pemerhati, akademisi, penulis, dan berbagai kalangan untuk terlibat dalam gerakan literasi Dayak. Partisipasi tersebut dapat diwujudkan melalui kehadiran dalam kegiatan, dukungan material, maupun kontribusi karya tulisan.

Gerakan ini berawal dari kegiatan Batu Ruyud Writing Camp di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Pada bulan November 2022 telah dilakukan deklarasi literasi Dayak sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran literasi di kalangan masyarakat Dayak.

Sejak saat itu para penggiat literasi Dayak terus mengembangkan gerakan ini hingga kini memasuki tahun keempat. Momentum Kongres Internasional Literasi Dayak diharapkan menjadi kelanjutan dari perjalanan tersebut.

Harapannya tidak ada panggung untuk siapa pun secara pribadi. Yang ada adalah panggung bagi suku bangsa Dayak untuk membangkitkan kembali kesadaran peradabannya melalui literasi.

Demikian narasi ini ditutup dengan salam Dayak.

Adil ka Talino

Bacuramin ka Saruga

Basengat ka Jubata

***

Dukungan dan bantuan Saudara-saudara bisa disalurkan melalui Rekening BNI 1349344733. AN. ITKK/ Florentina Neneng Sabela.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url