Jejak Orang-orang Hakka di Sanggau Sejarah Luka dan Harmoni
Buku Orang-orang HAKKA di Sanggau karya Masri Sareb Putra merupakan sebuah karya monumental yang menyingkap lapisan-lapisan sejarah panjang komunitas Hakka di Sanggau, Kalimantan Barat. Diterbitkan oleh Lembaga Literasi Dayak pada cetakan pertama Januari 2025, buku setebal viii + 635 halaman ini sekadar catatan sejarah, melainkan sebuah novel sejarah yang kaya riset, emosi, dan refleksi kemanusiaan.
Masri Sareb Putra, sastrawan Indonesia yang telah merilis ratusan buku, menghadirkan kisah ini dengan ketekunan akademik sekaligus kepekaan sastra. Didukung oleh penyuntingan, desain sampul, dan tata letak yang rapi oleh Matius Mardani, buku ini tampil serius sekaligus layak menjadi rujukan sejarah lokal yang bernilai tinggi.
Kisah bermula pada pertengahan abad ke-18, ketika orang-orang Hakka dengan rakit bambu betung menyusuri Sungai Kapuas dan menamai wilayah tujuan mereka sebagai 桑高 (Siang-ngau Sanggau). Dipimpin oleh Kwee Seng Ong, yang kemudian dikenal sebagai Ban Theng Thua, mereka menghadapi derasnya arus Pancur Aji dengan keberanian dan tekad luar biasa.
Di tepian Sungai Kapuas, dekat muara Sungai Sekayam yang kala itu masih sunyi, berdirilah perkampungan awal yang kini dikenal sebagai lokasi Vihara Tridharma di Jalan Kartini, Sanggau. Gelombang migrasi orang Hakka ke Borneo Barat tidak berhenti di sana. Konflik berkepanjangan di Tiongkok termasuk perang saudara antara Chiang Kai-shek dan Mao Zedong menjadi faktor pendorong kedatangan migran-migran berikutnya.
Buku ini dengan cermat menampilkan pertemuan lintas budaya antara tokoh-tokoh Hakka seperti Liu Shan, Tong Guan, Loh Tian Hui, dan lainnya, dengan tokoh-tokoh lokal Dayak seperti Dara Nante, Babai Cinga, Lampon, Macan Luar, Macan Gaikng, hingga Panglima Kumbang.
Pertemuan dua dunia ini tidak selalu berjalan mulus. Masri Sareb Putra merajut kisah konflik, adaptasi, hingga harmoni yang perlahan terbangun. Narasi yang disajikan menunjukkan bahwa sejarah Sanggau adalah kisah tunggal, melainkan mosaik kebudayaan yang saling berkelindan.
Namun, buku ini juga tidak menutup mata terhadap babak paling kelam dalam sejarah tersebut. Tragedi tahun 1967, yang dipicu oleh PP No. 10 Tahun 1959 dan Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967, memaksa komunitas Tionghoa termasuk Hakka di Sanggau meninggalkan wilayah pedalaman. Ironisnya, masyarakat Dayak yang semula dimanipulasi oleh kekuasaan melalui politik adu domba, pada akhirnya ikut menanggung luka sejarah yang mendalam.
Dengan 107 catatan kaki, buku ini menunjukkan kekuatan riset yang serius dan dapat dipertanggungjawabkan. Kutipan adagium Latin historia vero testis temporum sejarah adalah saksi zaman menjadi benang merah yang menegaskan pesan utama buku ini bahwa sejarah sekadar masa lalu, melainkan cermin untuk memahami relasi manusia, tanah, dan kekuasaan hari ini.
Orang-orang HAKKA di Sanggau layak dibaca oleh siapa pun yang tertarik pada sejarah lokal, relasi antaretnis, dan perjalanan panjang kemanusiaan di Indonesia. Buku ini mengingatkan kita pada luka, mengajarkan kebijaksanaan untuk merawat ingatan dan membangun harmoni di tengah keberagaman.
Kalau mau, saya bisa menyesuaikan gaya bahasanya jadi lebih populer, lebih akademis, atau dipersingkat untuk resensi media atau majalah.
