Pak Hendro dan Kenangan di Kongres Internasional Literasi Dayak 2026

Hendro - Dokpri

Pak Hendro mengusap wajahnya perlahan sambil tersenyum kecil mengingat kejadian sore tadi. Ia masih merasa tidak enak ketika ketua panitia ikut membantu mengangkat kasur ke kamar peserta. 

“Biar cepat, Pak,” kata Pak Ketua sambil tertawa ringan waktu itu. 

Hal-hal kecil seperti itulah yang justru tinggal paling lama di kepalanya. Bukan lampu panggung. Bukan tepuk tangan panjang. Melainkan perhatian sederhana yang membuat seorang guru dari Ambalau merasa diterima diacara bersejarah itu.

Ia datang dari Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang, membawa rasa penasaran yang selama ini hanya tumbuh lewat cerita dan kabar dari rekannya, Jonison. Perjalanan menuju Sekadau terasa panjang. 

Sungai, jalan darat, hujan, dan udara dingin pedalaman seperti ikut mengantar langkahnya menuju Kongres Internasional I Literasi Dayak dan The 1st Dayak Book Fair yang pertama kali dilaksanakan di dunia. Namun ketika akhirnya ia tiba, rasa lelah itu perlahan hilang oleh suara-suara orang yang berbicara tentang buku, budaya, dan literasi Dayak.

Di sela kegiatan, Pak Hendro lebih banyak berjalan pelan dari satu stan buku ke stan lain. Tangannya beberapa kali menyentuh sampul buku bertema Dayak yang dipajang rapi di meja-meja panjang. 

Sesekali ia berhenti mendengar percakapan peserta lain yang datang dari berbagai daerah. Ada logat pedalaman, ada bahasa daerah yang bercampur bahasa Indonesia, ada tawa kecil yang terdengar akrab meski baru pertama bertemu.

“Kenangan pada kegiatan Kongres Internasional I Literasi Dayak dan The 1st Dayak Book Fair yang pertama kali dilaksanakan di dunia,” katanya pelan kepada seorang peserta lain malam itu. 

Matanya tampak berbinar ketika menyebut kalimat “pertama kali di dunia”. Seolah ia sendiri masih belum percaya bahwa sebuah kegiatan sebesar itu benar-benar terjadi di tanah yang selama ini lebih sering dikenal lewat hutan, sungai, dan cerita-cerita lama.

Baginya, kegiatan itu bukan sekadar acara dua hari di Sekadau pada 16 dan 17 Mei 2026. Ada sesuatu yang lebih dalam dari itu. Ia melihat orang-orang Dayak datang membawa harapan yang sama, agar budaya mereka tidak hilang ditelan zaman. Anak-anak muda tetap mengenal bahasa leluhur, cerita lisan, dan ingatan tentang kampung-kampung yang jauh di pedalaman.

“Semoga dengan adanya kegiatan ini budaya Dayak semakin dikenal di seluruh penjuru dunia,” ucapnya lirih. 

Kalimat itu meluncur tanpa dibuat-buat. Tidak terdengar seperti slogan besar. Lebih seperti doa dari seseorang yang setiap hari hidup dekat dengan kenyataan sederhana di pedalaman. Sekolah kecil, jalan berlumpur, dan anak-anak yang masih belajar membaca sambil mendengar suara sungai di luar kelas.

Ia juga tidak lupa menyebut orang-orang yang membantunya bisa hadir di sana. Nama-nama itu diucapkannya dengan penuh hormat, seperti seseorang yang menyimpan utang kebaikan di dalam hati. 

“Terima kasih kepada seluruh narasumber baik dari dalam maupun luar negeri yang tidak dapat saya sebut namanya satu persatu, anda semua adalah orang hebat. Terima kasih juga kepada Bapak Sopian Sos., M.Si selaku Ketua Ikatan Dayak Uut Danum (IKADUM), Bapak Jonison selaku Pengawas SD Kabupaten Sintang, dan Bapak Matius Mardani. Berkat bapak bertiga saya bisa ikut kegiatan literasi ini.”

Sesudah mengatakan itu, ia tertawa kecil sambil menunduk, mungkin malu karena merasa kalimat-kalimatnya terlalu sederhana dibanding para pembicara lain. Tetapi justru di situlah letak kekuatannya. 

Pak Hendro tidak sedang mencoba terlihat pandai. Ia hanya sedang berbicara sebagai seorang anak Dayak Uut Danum Serawai dari Ambalau yang merasa bahagia karena akhirnya bisa hadir di tengah orang-orang yang sama-sama menjaga budaya lewat tulisan dan literasi.

“Mohon maaf jika tidak bisa merangkai kata-kata yang elok,” katanya lagi sambil tersenyum tipis. 

“Namun sejujurnya saya selalu anak Dayak Uut Danum Serawai Ambalau sangat bersyukur dapat hadir dalam kegiatan tersebut.”

Di luar aula, sore mulai turun perlahan. Ia tahu setelah ini hidup akan kembali seperti biasa. Ia akan kembali mengajar di Ambalau. Kembali mendengar suara murid-murid membaca perlahan di kelas sederhana. Tetapi mungkin ada sesuatu yang sudah berubah diam-diam di dalam dirinya.

Sebelum berpisah, ia kembali mengucapkan terima kasih kepada panitia kegiatan atas segala jamuan dan penginapan yang diberikan. 

Lalu sambil tertawa kecil ia berkata, “Maaf kemarin sampai pak ketua ikut angkat kasurnya.”

Orang-orang di dekatnya ikut tertawa. Namun sesudah tawa itu reda, kalimat sederhana tersebut justru terasa tinggal lama di udara. Sebab kadang sebuah peristiwa besar memang tidak selalu diingat lewat pidato megah atau panggung terang. 

Kadang ia hidup justru lewat hal-hal kecil seperti kasur yang diangkat bersama, kopi hangat di penginapan, perjalanan jauh seorang guru pedalaman, dan rasa syukur yang diucapkan dengan bahasa paling sederhana. (MM)

***


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url