Kongres Internasional Literasi Dayak I dan Dayak Book Fair dalam Catatan Grace Lukas

Dari kiri: Wilson, Masri, Grace, Matius - Dokpri. Grace

Di lorong-lorong kampus Institut Teknologi Keling Kumang, Sekadau, orang-orang datang dengan nama, gelar, dan latar belakang masing-masing. Ada akademisi, penulis, pegiat budaya, mahasiswa, politisi, hingga mereka yang datang karena merasa ada sesuatu yang perlu dijaga dari masa depan Dayak. 

Pada Kongres Internasional Literasi Dayak I dan Dayak Book Fair, 15-16 Mei 2026 itu, yang paling terasa justru bukan pidato-pidato resmi. Melainkan percakapan-percakapan kecil yang hidup di sela kegiatan. Percakapan yang barangkali tak pernah masuk laporan panitia, namun diam-diam menyimpan denyut sebuah peradaban yang sedang bertahan.

Grace Lukas mengingat satu momen sederhana ketika beberapa penulis Dayak saling bercanda setelah berfoto bersama. Salah seorang di antara mereka bercerita bagaimana anaknya dulu pernah menggoda gaya menulisnya yang dianggap meniru Tina Lee. 

Ia bahkan belum mengenal siapa sosok itu. Bertahun-tahun kemudian, semesta mempertemukan mereka dalam satu kongres literasi di tanah Dayak. Tidak ada kemewahan dalam cerita itu. Hanya tawa kecil, rasa kagum, dan perasaan ganjil ketika seseorang akhirnya bertemu dengan nama yang selama ini hanya hidup dalam tulisan.

Penulis itu adalah Jonison, sosok berupaya membangun gerakan literasi suku Dayak Uud Danum. Gerakannya dengan mengelola www.literasiuuddanum.com. Bukunya berjudul Folklor Dayak Uud Danum, 40 Cerita Pilihan, jadi salah satu buku yang hadir di Dayak Book Fair kali ini. 

Sementara sosok Lie Martina tapi orang-orang lebih suka memanggilnya Tina Lee. Sosok perempuan muda yang mengalakan literasi lewat Komunitas Bumi Menulis. Sebuah gerakan menulis di wilayah perbatasan Kalimantan Barat. 

Bagi Grace, momen-momen seperti itulah yang membuat kongres terasa penting. Ia melihat orang-orang yang selama ini menulis dalam sunyi akhirnya saling bertemu sebagai sesama pejuang ingatan. Di tangan merekalah kisah-kisah Dayak tetap disimpan. 

“Kalian semua pahlawan harus berbangga sesama penulis,” tulis Grace dalam percakapan Grup WhatsApp Literasi Dayak. 

Kalimat pendek namun memuat pengakuan terhadap kerja panjang yang sering tidak terlihat.

Di tengah kongres itu, nama Masri Sareb Putra beberapa kali disebut. Sebagian peserta memanggilnya “Master Rangkaya Bada”. Sebagian lain melihatnya sebagai panglima literasi Dayak yang telah bertahun-tahun menulis buku, gagasan, dan semangat membaca ke banyak tempat. 

Grace melihat lebih dari sekadar seorang penulis. Ia melihat seseorang yang rela menghabiskan tenaga, pikiran, bahkan materi pribadi demi memastikan Kongres Literasi Dayak benar-benar terjadi. Hampir satu tahun persiapan dilalui untuk menghadirkan ruang pertemuan bagi orang-orang Dayak dari berbagai daerah dan generasi.

Tanpa menafikan kehadiran para tokoh Dayak dan kegiatan seminar. Dalam kongres ini yang paling penting adalah kesadaran bahwa di tengah perubahan zaman, masih ada orang-orang yang percaya bahwa menulis dapat menyelamatkan identitas.

Dan tentu saja buku, bahasa, cerita rakyat, dan ingatan leluhur masih layak diperjuangkan. Selama dua hari itu, literasi tidak terasa sebagai istilah akademik. Literasi menjadi ruang bertemu wajah-wajah penulis Dayak yang saling menguatkan. Literasi menjadi jalan untuk tetap menyakini bahwa Dayak memiliki cerita untuk diwariskan.

***

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url