Stabilo Berwarna, Warnai Kisah Puhtir dan Lusi

 


Suatu pagi, sekitar pukul 10.00, Puhtir dijemput papinya. Puhtir masih duduk di kelas 1 SD. Karena jarak yang cukup jauh Puhtir tidak langsung diantar pulang namun menunggu di kantor papinya. 

Walaupun di tempat kerja papinya, Puhtir anak yang nurut dan tidak merepotkan atau membuat kegaduhan sehingga kehadirannya tidak mengganggu rekan kerja papinya.

Pada hari itu, ada mahasiswa guru dari Universitas Pelita Harapan yang sedang melakukan program praktik pengalaman lapangan (PPL). Mereka menempati ruang perpustakaan selama program ini berlangsung. Puhtir berinteraksi dengan mereka selama istirahat.

Waktu pulang segera tiba, Puhtir dan papinya pun bersiap pulang tetapi Puhtir masih menyempatkan diri bertemu dengan salah seorang mahasiswi guru.

Setiba di rumah, Puhtir belum juga melepas sepatu dan berganti baju sudah tak sabar membuka tasnya. Papinya pun penasaran, barang apa gerangan yang hendak diambilnya. Sesaat kemudian dengan penuh semangat, Puhtir mengambil barang dari dalam tasnya. Nampak berwarna-warni dalam satu kontak, setelah diperhatikan ternyata stabilo berwarna.

Spontan, papinya bertanya, “dari siapa itu?”

“Dari miss Lusi,” jawab Puhtir.

“Miss Lusi,” kata papi.

“Iya Miss Lusi, itu lho yang dari UPH, masak papi g tahu,” jawab Puhtir dengan semangat.

“Ya, maklum lah papi kan belum kenal semua mahasiswa guru dari UPH,”kata papi.

Suatu hari, Puhtir bersama papinya mengunjungi UPH Festival, sebuah acara menyambut mahasiswa baru di Universitas Pelita Harapan. Saat menuju UPH festival, Puhtir berkata kepada papinya, “Papi nanti aku mau ketemu Miss Lusi, pokoknya aku mau ketemu Miss Lusi.”

Ini agak mengejutkan, mengingat ada beberapa mahasiswa guru lainnya, Anggi, Putri, Grace, Bella, Shopia, dan Revy. Tetapi Puhtir memilih akrab dengan Lusi.

Semenjak peristiwa pemberian stabilo berwarna itu,Puhtir terlihat semakin dekat dengan Lusi dari hari kehari. Mereka bahkan berteman baik.

“Ya, yang terpenting melihat Puhtir bahagia,” Papi berkata dalam hati.

Betapa senangnya Puhtir bertemu dengan Lusi. Papinya, membiarkan mereka berinteraksi dengan akrab. Selamat di acara itu, Puhtir menghabis waktu dengan Lusi.

Suatu ketika, Papi Puhtir bersama dengan beberapa mahasiswa guru makan siang bersama di kantin. Saat itu, Lusi menawarkan ikan teri kepada papi Puhtir.

“ini pak, ikan teri, dari Rembang lho pak,” kata Lusi sembari menyodorkan toples kecil berisi ikan teri kepada Papi Puhtir.

Sesaat, Papi Puhtir mengerutkan dahi seolah berpikir sesuatu. Benar saja,“Rembang?” kata papi Puhtir.

“Kamu dari Rembang?” tanya papi Puhtir.

“Iya, pak, saya dari Rembang,” jawab Lusi.

“Siapa pendatamu di sana,” kata papi Puhtir.

“Pendeta Sugimin pak,” jawab Lusi.

“Ah, Yehezkiel Sugimin?” kata Papi Puhtir.

“Iya, Pak, Bapak kenal,” kata Lusi

“Kenal, saat saya SMA saya di Rembang, om Yehezkiel begitu saya memanggilnya adalah pembina pemuda. Saya salah satu yang dibina beliau, apalagi saat itu saya sebagai sekretaris pemuda di gereja. Coba kamu tanya telepon beliau. Kalau begitu, kita adalah hasil binaan dari pembina yang sama” kata papi Puhtir.

Lusi berasal dari kota yang melahirkan pahlawan nasional wanita, Raden Ajeng Kartini, yang berjuang untuk emansipasi wanita. Lusi adalah Kartini masa kini, yang siap mencerdaskan anak-anak negeri ini dengan menjadi pendidik. Keberaniannya melangkah hingga ke UPH adalah suatu inspirasi generasi muda.

Keakraban dengan Lusi dengan Puhtir jadi indikasi yang positif bahwa mahasiswa guru dari UPH mampu berinteraksi dengan anak-anak dan memikat hati mereka. Ini adalah modal penting dalam peran mereka sebagai pendidik.

Puhtir sangat senang dengan pertemuan ini, Yang terpenting, mereka menjadi teman baik. Momen ini menyisakan cerita indah dalam perjalanan mereka.

Cerita bahkan bisa terus berlanjut. Siapa tahu di masa depan, Puhtir danLusi akan berkarya bersama bagi Tuhan. Semoga mahasiswa guru dari UPH, sukses dalam perjalanan mereka sebagai pendidik.

Tindakan kecil ternyata berdampak besar. Hanya dari sebuah stabilo berwarna malah menjadi warna dalam perjalanan hidup mereka. 

Stabilo kecil mengakrabkan Puhtir, gadis kecil yang baru berusia 7 tahun dengan Miss Lusi. Seperti kakak dan adik kecilnya, atau seperti guru dengan murid. Terserah yang menilainya.

Stabilo berwarna, warnai kisah Puhtir dan Lusi. Indah penuh warna, meski beda usia. Tuhan yang merencanakan pertemuan penuh kenangan ini. Sederhana, menggoreskan warna yang indah dalam momen perjalanan Lusi dan Puhtir.


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url