Pengalaman Pertama Kali Beli Buku Tentang Menulis



Beruntung mungkin itu kata yang paling tepat sekalipun tinggal di kampung yang pada waktu itu minim sekali literasi atau bahan bacaan saya. Beruntung karena punya paman yang berlangganan koran Kompas, tabloid bola, Intisari, bahkan Jawa Pos dan Suara Merdeka.

Lewat literasi atau bahan bacaan itu, saya mendapatkan gizi pengetahuanku. Sungguh, itu menjadi bekal yang begitu berharga hingga kini.

Dari situ, saya mulai terbersit untuk jadi penulis. Saya termotivasi untuk terus belajar menulis. Selama kuliah, tertarik dengan dunia menulis. 

Apalagi pada saat itu dipercaya mengelola bidang jurnalistik, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa (STT PB) Jakarta. Bidang, salah satu produknya dalam membuat majalah kampus.

Untuk itu, saya harus memiliki kecakapan menulis, editor, layouter, desain cover, dan pimpinan redaksi. Tetapi bagian yang paling penting adalah menulis.

Saya mulai mencari dan membeli buku-buku yang berkaitan dengan menulis dan hal-hal yang mendukung tentang tulis-menulis seperti buku tentang jurnalistik.

Teringat buku pertama yang saya beli, harganya pada saat itu rp6.500. Saya membelinya pada tahun 2008. Buku itu adalah "Teknik Jurnalistik: Tuntunan Praktis untuk Menjadi Wartawan" karangan Patmono SK. 

Buku itu diterbitkan pertama kali tahun 1990, dengan jumlah halamannya xi + 154 halaman, dengan tinggi buku 20 cm. Buku kecil itu cukup memberikan gambaran bagi tentang jurnalistik. 

Buku kecil itu begitu berharga karena isinya yang padat, singkat dan jelas menjabarkan tentang apa itu jurnalistik. Dan bagaimana mengerjakan pekerjaan-pekerjaan jurnalistik dari mulai persiapan redaksi, bentuk-betuk tulisan, wawancara, editing dan tentang foto jurnalistik. Foto juga sangat penting sebagai penyampai pesan visual. Selain itu, di lampirkan tentang kode etik jurnalistik.

Penulis buku ini memiliki pengalaman menangani majalah PGI atau dulu sebut (DGI) dinamakan “BERITA OIKUMENE” terbit tahun 1977.  Beliau menjadi wartawan harian Sinar Harapan dan selama menjadi wartawan beliau juga sebagai anggota PWI. 

Aktif menulis cerita pendek bahkan salah satu artikelnya di harian Kompas mendapat penghargaan sebagai juara harapan satu pada lomba penulisan dalam rangka kebangkitan nasional Tahun 1977. 

Pengalaman dan pengetahuannya dituangkan dalam buku ini. Ilmu yang sangat berharga di tengah keterbatasan pada saat itu. Dan saat itu, rasanya mustahil bisa mendapatkan buku-buku untuk memulai tugas jurnalistik. Tetapi itu tidak membuatku patah arang. Faktanya setiap usaha yang ditempuh menemukan jalannya, setidaknya lewat buku kecil dan sederhana ini.

Ini adalah buku pertama tentang jurnalistik dan menulis yang saya miliki. Buku ini memiliki kesan tersendiri, mengingat pada saat itu saya tidak memiliki cukup uang untuk membeli buku-buku yang berkualitas. 

Menemukan buku itu di antara buku-buku stok lama adalah seperti menemukan permata. Meski nampak usang, tetapi isinya tak ternilai.

Saya berjalan kaki dari Pasar Baru menuju Senen, dari Senen melewati Atrium, kemudian menyeberang dan menuju ke toko buku BPK Gunung Mulia. Begitu ramai di sana, dengan sebagian besar adalah mahasiswa-mahasiswi dari sekolah tinggi teologia yang ada di Jakarta dan sekitarnya.

Buku kecil nan sederhana itu, nampak usang, mungkin juga diabaikan orang. Kondis itu malah menjadi satu berkah tersendiri. 

Melalui buku itu, saya mulai belajar memahami tentang jurnalistik. Tetapi pengetahuan dari buku itu menjadi bekal yang sangat berharga dalam menyusun newsroom di kampus.

Hingga kini, buku itu tetap menjadi salah satu tonggak perjalanan saya dalam dunia menulis dan jurnalistik. Meski sederhana, buku tersebut telah mengantarkan saya berkembang sebagai penulis dan editor di bawah bimbingan Masri Sareb Putra.

Apa buku pertama Anda tentang menulis?


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url