The Two Popes – Terkenang Ratzinge

 


build a BRIDGE not WALL

–saya terkesima, sekaligus terharu menyaksikan film the 2 POPES, Ratzingerdan Bergoglio. Settingnya saya kenal betul: Basilika St. Petrus, taman kepausan, villa musim panas Gondolfo, dan … tentu saja Kapel Sistine tempat konklaf.

Saya juga anggota Ratzinger Fans Club dari Indonesia, semenjak beliau kardinal dan belum Paus Benedictus XVI. Tahun 2007, saya menulis biografinya: Iman & Akal Paus Benedictus XVI. Diterbitkan salah satu Penerbit tertua Nusantara, Nusa Indah, buku itu boleh dibilang laris-manis. Waktu terbit, terjual 600 eks/ minggu. Bahkan, kawan saya di Jakarta membelinya waktu cuti di Ende. Setelah membeli, ia baru mafhum penulisnya temannya bekerja pada kantor yang sama (bukan: sekantor –ini salah!).

Saya mengagumi Ratzinger sebagai intelektual, filsuf, sekaligus peritus(buka kamus untuk mengerti istilah ini) dan salah seorang otak Konsili Vatikan II yang reformanda itu.

Selama Konsili Vatikan II (1962-1965), empat kali Ratzinger memaparkan makalah, hasil olah intelektualnya. Waktu itu, ia peritus bagi Kardinal Josef Frings dari Cologne, Jerman. Inti pesannya bahwa setiap orang katolik seperti judul di atas!

Film teranyar berdurasi lebih dua jam itu, menurut saya, mampu menangkap a hidden story tentang suksesi kepemimpinan dalam Gereja Katolik kiwari. Bagaimana konklaf berlangsung abad ke abad. Juga ihwal kudus dan profan, altar dan pasar, iblis dan malaikat, serta teologi yang (mesti) kontekstual sekaligus membebaskan –termasuk dari kemiskinan struktural dan rasa takut.

Sayang, saya sudah tidak lagi seorang penulis artikel. Kiranya, ada kawan –Mungin Tom– yang mengulasnya. Atau Prof. Armada.

Jujur, secara garis dogma dan teologi, saya sealiran dengan Ratzinger. Ia dianggap konservatif. Namun, bacalah buku the 8 Habits dan manual US Army yang mengakui bahwa: di situlah letak kekuatan Gereja Katolik. Yakni pada kharisma sang pemimpinnya yang berkarakter. Istilah kerennya:Roma locuta, causa finita!

Saya juga baca di literatur2 tentang leadership dan teori organisasi, penciri suatu agama/ komunitas adalah: jelas kisah suksesinya, dari masa kemasa. Saya pikir, film the TWO POPES ini wajib dipirsa intelektual muda, utamanya seminarisa dan para teolog dogmatik atau Eklesiologi untuk menemukan sebuah konsep apa yang kini disebut sebagai SERVANTHOOD LEADERHSIP.

Saya terharu dengan Ratzinger yang SILENTIUM INCARNATUM. Saya baca dalam sejarah dan kisah-kisah para raja zaman dulu, dalam cerita-cerita silatKhi Ping Ho, juga dalam MAHABRATA, begitulah raja zaman dahulu kala. Ia menyiapkan pemimpin baru, yang lebih hebat dari dirinya. Setelah itu, ia lengser keprabon –ini yang benar– bertapa menjadi resi. Ia memberi jalan kepada sang penerus. Biarlah penerus menjadi besar, dan ia menjadi semakin kecil. Itulah esensi pemimpin yang-melayani!

Saya juga menitikkan air mata menyaksikan pertemuan dua paus terakhir. Saya bayangkan sedang berada di sana, juga masih berdiri tegak memandang Ager Vaticanus (bukit Vatikan) dan Castel musim panas paus.

Penulis: Rangkaya Bada


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url