Aku Hanya Belum Bisa

pixabay

Suasana kelas itu nampak tenang, mungkin karena kelas akan usai. Mungkin juga karena hari ini pertemuan terakhir mata kuliah ini.

“kita masih punya sedikit waktu”, suara ibu dosen memecah suasana.

“Untuk itu saya ingin kalian menulis”. Judulnya, sambil beliau membalikkan badan dan berdiri, melangkah menuju papan whiteboard. Di tulisnya, I CAN. Menulis dengan judul ini, satu halaman.” Perintahnya!

Sesaat saya merenung mengapa ibu ini meminta kami menulis yang tidak ada hubungannya dengan mata kuliah yang kami pelajari. Oh… mungkin beliau ingin mengajarkan bagaimana menulis? Atau ingin memotivasi kami karena judul I Can (aku bisa). Ah, entahlah! Tapi apapun itu pasti ada alasannya.

Menulis, I Can? Apa yang akan ku urai dari judul itu?

Aku bisa menjadi presiden, aku bisa menjadi tokoh terkenal, atau aku bisa meraih mimpiku. Ah, rasanya itu biasa. Apa yang tidak biasa dari judul ini?

Ya, silahkan ditulis waktu kita tidak banyak! mendengar itu membuyarkan anganku. Apa yang harus kutulis. Kulirik ke kanan dan kiri, nampak teman-temanku begitu antusias dan sepertinya mereka menemukan ide yang bagus untuk ditulis. Maklum aku duduk di barisan paling belakang

Ah, aku tak bisa.

Ah, aku tak bisa.

Ah, aku tak bisa. Tak bisa apa-apa.

Sejenak aku berpikir, benarkah aku tak bisa? Tak bisa apa-apa? Padahal judulnya Aku Bisa. Bagaimana aku bilang bisa? Bahkan tidak bisa apa-apa?

Sekali lagi sejenak aku makin keras berpikir. Tapi kalau aku berusaha, aku mencoba masak tidak bisa juga. Bukankah usaha tidak pernah mengkhianati hasil? Asal berusaha pasti bisa.

Bisa apa? Aku tundukkan kepala kumerenung. Benar aku tak bisa.

Ah, mungkin hanya belum bisa. Kalau aku mencoba, aku berusaha pasti aku bisa.

Ya, ya, jadi sebenarnya aku hanya belum bisa.

Belum berarti proses. Aku harus mau berproses. Terus berusaha.

Akhirnya, aku hanya belum bisa. Kalau aku berusaha, aku pasti bisa.

I can.

“Ya, waktunya habis, silahkan dikumpulkan tugasnya”, suara ibu dosen yang menghentikan pekerjaan kami.

Ya, begitulah yang kutulis. Hanya coretan-coretan tak ‘jelas’ itu. Apa boleh buat waktu sudah habis daripada tidak mengumpulkan.

Satu per satu kami menghampiri meja dosen dan menyerahkan tugaskami. Lembar demi lembar diterima ibu dosen. Setelah semua terkumpul,sejenak beliau memeriksa tulisan kami. Tak butuh waktu lama beliau telahmenemukan tulisan-tulisan terbaik. Yah, dosen biasa mengoreksi tulisan-tulisan mahasiswa. Hal yang tak mengherankan.

Sesaat kemudian ibu dosen mengumumkan tulisan yang menjadi pemenang.

“tulisan terbaik ketiga Elim” tulisan terbaik kedua Lina “dan tulisan terbaik pertama, … dengan penasaran kami semua menyimak. 

“ini punya siapa?” ibu dosen malah bertanya, sambil mengangkat selembar kertas. Dengan terkejut rasanya kukenali kertas itu, makin aku perhatikan tak salah lagi punyaku.

Lanjut ibu dosen, “yang merasa memiliki kertas ini maju ke depan”. Sontak dengan gemetar dan sedikit ragu sekaligus senang tapi aku malah merasa ada yang tidak beres. 

Mengapa tidak langsung disebutkan saja nama pemenangnya. Kenapa malah begini? Apakah saya menang? Tapi ini bukan kompetisi? Sesaat itu berkecambuk dibenakku. Kuberanikan mengangkat tangan, “punya saya ibu”.

“O… silahkan maju depan” jawab ibu dosen.

Setelah saya menghampiri mejanya, tepat disamping meja dengan badan dan pandangan kepada ibu dosen. 

Dengan menatap saya, beliau berkata,“Kamu tahu, kalau tulisanmu ini adalah yang terbaik”. Tak bisa kupungkiri hatiku senang sekali, tapi kenapa tulisan semacam itu yang terbaik? Bisikku dalam hati.

“Ibu mau tanya” suara ibu dosen menyentakku. “kamu kalau membaca buku seperti mengunyah makanan?” pertanyaan yang membuatku sejenak merenung, tapi kemudian aku mengerti maksudnya. Kalau setiap kalimat yang tak ku pahami atau yang menarik bagiku, aku akan mengulangnya atau membolak-balik kalimat sampai aku menemukan maknanya.

Dengan mantap ku jawab, “ya bu”.

“Lain waktu kalau kamu punya artikel yang bagus kirim ke ibu ya”, Sahutnya. Sekarang kamu baca menghadap teman-temanmu, lanjutnya.

Bla..bla… di akhir kata, suara tepuk tangan menggema di ruang kelas itu.

Tepuk tangan teman-teman sudah cukup memberikan semangat untuk terus mengasah penaku. Lebih lagi, telah kudapat ‘sebuah’ kepercayaandari salah seorang dosen tersebut. Dua penghargaan berharga meski tanpa uang dan sertifikat.

Bukankah, barangsiapa setia pada perkara kecil, kepadanya akan dipercayakan perkara-perkara besar. Yes!

Satu hal yang dapat kupetik dari peristiwa ini, o… begini ya menulis yang bagus.

Aku tak pernah tahu apakah tulisanku bagus atau tidak? kalau aku tidak menulis dan mengujinya.

Oh… apa ini yang dimaksud ujian dulu baru belajar? Tiba-tiba teringat ucapan seorang penulis senior. Rasanya ini salah satu teknik yang efektif untuk belajar menulis. Setelah ikut ujian baru tahu seperti apa tulisan yang baik itu.

Salah satu ilmu menulis, kita pelajari setelah tahu apa respon orang.

Jadi sebagai penulis pemula, menulis dan “ujikan” tulisan itu.

Kita hanya belum bisa. Menulis, menulis, dan menulis. Menguji, menguji, dan menguji. Saya yakin Anda pasti bisa. Ya, bisa menulis dengan baik.

Saya kira begitulah belajar menulis.

Kiranya ini energi bagi penulis pemula. Salam Literasi!

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url